KAGET. Itulah yang menderaku ketika Ketua HMI Cabang Maros Rijal A Sastro memberitahuku tentang diriku yang menerima penghargaan berupa cinderamata berbentuk sertifikat. Yaitu, penghargaan sebagai Jurnalis Pejuang Anti Korupsi.
Penghargaan itu seharusnya kuterima saat Refleksi Akhir Tahun yang digelar HMI dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) pada malam pergantian tahun dari 2007 ke 2008, Senin (31/12), di Gedung Badan Koordinasi Kesenian Indonesia (BKKI) Maros. Pertemuan itu dihadiri organisasi kepemudaan di Maros dan pejabat dalam lingkup Pemkab Maros.
Hanya saja, pada malam itu, aku tidak bisa hadir karena kondisi kesehatanku kurang sehat dan juga sudah niatan akan melaksanakan shalat Sujud Syukur di Masjid AL Markas Al Islami Makassar di malam pergantian tahun.
Baru keesokan harinya, penghargaan itu diserahkan kepadaku. Dan aku hanya mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil’alamin.
Tapi sebelumnya, aku sempat bertanya, apa standarnisasinya sehingga aku menerima penghargaan itu? Sampai-sampai, aku mengatakan pada Rijal, mungkin karena aku adalah kader HMI sehingga terpilih mendapat penghargaan itu. “Jangan ada diskriminasi,” kataku dengan tegas pada Rijal.
Dulunya, aku memang pernah menjabat sebagai Ketua Kohati Korkom UMI, Wakil Sekretaris Kohati HMI Cabang Makassar, dan pernah terlibat dalam tim investigasi kasus penyerbuan aparat ke Wisma HMI Cabang Makassar beberapa waktu lalu.
Rijal langsung membantahnya mentah-mentah. Penghargaan itu, katanya, meskipun diberikan atas nama HMI dan KAHMI, bukan karena diriku dari background HMI tapi karena independensi yang kuanut.
“Bukan Kanda. Pemberian itu bukan karena Kanda Inka kader HMI tapi karena satu-satunya jurnalis di Maros yang gigih, berani, dan serius dalam mengakomodir berita tentang ketimpangan di Pemerintah Kabupaten Maros dan menyampaikan ke publik secara gamblang. Tidak seperti wartawan lainnya yang ada di Maros,” katanya. Aku sedikit lega dengan penuturannya.
“Ini satu-satunya cinderamata yang kami berikan kepada seseorang di akhir tahun 2007. Orang yang berhak menerima penghargaan itu diputuskan setelah melalui rapat dengan pengurus HMI dan KAHMI,” tambah Rijal lagi.
Sampai sekarang pun, aku masih kaget atas penghargaan itu. Aku bekerja sebagai jurnalis dan memberitakan ketimpangan di depan mataku bukan untuk sebuah penghargaan dan keakuan diri tapi karena panggilan hati nurani. Intinya ingin membantu mengubah wajah Maros ke arah lebih baik karena aku mencintai daerah itu.
Atas penghargaan itu, aku lalu melaporkannya ke kantorku. Menghubungi Pemimpin Redaksi Koran Tribun Timur UKI M KURDI dan Wakil Pemimpin Redaksi Dahlan melalui sms.
Alhamdulillah, Biro Maros Koran Tribun Timur terima penghargaan Jurnalis Pejuang Anti Korupsi di Maros. Satu-satunya yang menerima penghargaan di Maros dalam malam Refleksi Akhir Tahun HMI – KAHMI Maros..Heee.
Di balas Pak UKI:
Hahaaa. Sukses untuk Inka. Salam
Di Balas Kak Dahlan:
Wah! Selamat Inka…. Bagus. Tolong tulis beritanya, yah….
Perintah paling terakhir rasanya sulit kulakukan. Seperti jeruk makan jeruk. Berita tentang diri sendiri, ditulis sendiri. Heeee
January 01, 2008
Tahun Baru dengan Penghargaan Jurnalis Pejuang
Diposting oleh
APRIL MAKASSAR BERDARAH (AMARAH) 96
di
12:42 AM
1 komentar
December 31, 2007
सलामत Tahun बरुस 2008
DI Malam Tahun Baru. Menyambut Tahun 2008.
PUKUL dua belas tepat. Ketika Makassar diguyur pesta kembang api dari langit. Tapi aku memilih berada di dalam istana ini. Masjid Al Markas Al Islami Makassar. Sebuah kediaman megah merupakan rumah Allah. Menengadahkan tanganku untuk sebuah doa dan harapan serta berucap syukur atas nafas serta roh kehidupan masih kumiliki. Perayaan tanpa terompet, tanpa kembang api, juga tanpa teriakan histeris, dan hentakan musik kadang memecah gendang telinga.
Di sini tidak ada tawa dan nyanyian. Hanya ada bait-bait Allah kulafazkan dari mulutku. Melaksanakan shalat dua rakaat sebagai sujud syukur karena masih diberi kesempatan menyambut tahun 2008.
Semenjak dua tahun silam, dipergantian tahun, kuputuskan memilih menyepi ke masjid ini. Menarik diri dari keramaian yang menurutku bukan zamannya lagi. Duduk tafakur jauh lebih berharga dibandingkan luapan kegembiraan disertai emosi tidak terkontrol dalam menghabiskan malam pergantian tahun.
Malam pergantian tahun dari 2007 ke 2008, hanya sedikit orang sepertiku yang datang merayakan pergantian tahun ke tempat ini. Di shaf perempuan, hanya ada 30 orang saja. Sementara di shaf laki-laki malah lebih sedikit ketimbang jumlah perempuan.
Aku ke rumah suci ini tidak sendiri tapi bersama kakak perempuanku Risma Ridjang Sikati dan keponakanku Hasanah Amirullah Sikati.
Kakak dan keponakanku terlihat khusyu menjalankan shalat dua rakaat. Sementara aku yang sejak beberapa menit lalu sudah lebih dulu melaksanakannya, kini masih berkutat dengan membaca asma Allah.
Dari kaca jendela masjid, aku bisa melihat dengan leluasa pesta kembang api dengan berbagai model di langit berawan bermain-main sambil memancarkan warna warni disertai bunyi pelutut-pelutut.
Malam pergantian tahun ini cuaca masih cukup bersahabat. Sejak pukul tujuh malam sampai dua belas malam, cuaca cerah. Aku masih mengingat dengan jelas di tahun 2007 silam. Malam tahun baru yang dihantam dengan hujan lebat sejak pukul tujuh malam sampai subuh hari.
Di tahun 2008, ada banyak impianku. Terpenting adalah mengenai lauching bukuku berjudul Mencari Jejak Amarah. Sebuah buku sejarah yang mengangkat peristiwa berdarah tewasnya tiga mahasiswa UMI di tanggal 24 April 1996.
Aku lalu memilih membaca puluhan sms yang silih berganti menyerbu ponselku saat kuaktifkan.
Aku membukanya satu-persatu. Ucapan di dalamnya hampir seragam. Seolah-olah janjian. Pada intinya mengucapkan selamat tahun baru 2008.
Ada sebuah ucapan dari Bosku, Uki M Kurdy. Pak Uki adalah pimpinan redaksi Koran Tribun Timur tempatku bekerja.
Isinya :
Selamat Tahun Baru 2008. Akemashite omedetou gozaimasu. Kotoshi ha seikou to siawase ni narimasu youni oinori moushiagemasu, Amin (Uki M Kurdi).
Aku hanya membalasnya: Selamat Tahun Baru Juga BOS!
Kemudian sms itu ku forward ke sejumlah temanku agar mereka pusing bagi yang tidak mengerti artinya.
Aku membaringkan tubuhku di atas sajadah. Memandang langit-langit masjid yang diramaikan dengan lampu hias berukuran raksasa. Indah dan megah sekali masjid ini. Kututup bola mataku dan mencoba merasakan keheningan malam. Aku merasa sangat gemetar mendengar bunyi pelutut-pelutut di angkasa yang seolah-olah seperti bunyi ledakan bom yang datang menghantam dan meluluklantakkan Kota Makassar. Entah mengapa, aku menjadi takut mendengar suara itu. Aku tiba-tiba membayangkan diriku berada di sebuah padang luas kemudian melihat banyaknya orang-orang berteriak-teriak minta pertolongan untuk menghindari hujaman benda pijar dari angkasa.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bersyukur karena pilihanku di malam tahun baru berada lebih dekat denganMU, Ya Allah.
Tiba-tiba, setelah 20 menit berlalu dari pukul duabelas malam, gerimis kembali turun. Aku memutuskan pulang ketika jalanan mulai sedikit sunyi dari hiruk pikuk kendaraan.
Gerimis masih mengiringi perjalananku sampai di rumah. Dan ketika kuparkir kendaraan persis di depan rumah, tiba-tiba butiran hujan sebesar kelereng jatuh menghantam bumi disertai angin kencang. kubersyukur. Untung saja aku telah tiba di rumah.
Aku turun dari mobil dan melangkah dengan berjinjit untuk menghindari genangan air. Suara angin yang berdesir masih terdengar dan mengatup semua bulir.
Sebelum tidur, aku berkumpul bersama saudara-saudaraku di ruang keluarga. Di rumah, Ibuku tercinta membuat masakan spesial khusus menyambut tahun baru. Makanan spesial yang selalu tersaji setiap pergantian tahun. Seperti Lebaran rasanya. Ada buras dan opor ayam.
Pukul empat lewat lima belas menit. Aku mulai merasakan kepalaku berat dan sudah tidak bisa diajak kompromi. Inilah jam melewati jam ngantukku. Aku bergegas ke tempat tidur untuk segera mengistirahatkan mataku. Tidur.
Diposting oleh
APRIL MAKASSAR BERDARAH (AMARAH) 96
di
8:21 PM
0
komentar
December 30, 2007
Pramuka Maros Belajar Menulis Berita
Diposting oleh
APRIL MAKASSAR BERDARAH (AMARAH) 96
di
2:15 AM
0
komentar
December 24, 2007
Mengenang Kepergian Sang Fotografer Cakrawala IDE UPPM UMI
Hatiku bagai teriris sembilu mengenang lelaki bernama lengkap MJ Nasrullah itu. Menjadi terkoyak-koyak ketika benda-benda yang sangat disayanginya diobrak-abrik oleh polisi. Polisi yang menyerbu dan memporak-porandakan Sekretariat kami, Unit Penerbitan dan Penulisan Mahasiswa (UPPM), pada kasus 1 Mei 2004 silam.
Setelah penyerbuan itu, aku sempat melihat langsung kondisi Sao Kareba UPPM yang ada di Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) bersama seniorku di UPPM UMI, Baldi dan Selle KS Dalle. Mata kami berkaca-kaca, hati kami perih dan teriris-iris. Sekretariat yang kami gelari Sao Kareba UPPM dan begitu kami bangga-banggakan, tempat kami belajar mengenal hidup, tempat kami saling berbagi dalam suka dan duka, dianggap laiknya tempat sampah dan tidak punya nilai. Benda-benda yang menghiasi ruangan tidak lagi memiliki bentuk. Komputer, meja, kursi, berserakan tidak beraturan di lantai.
Dan paling menyakitkan hati kami adalah box yang terbuat dari kaca, tempat menyimpan barang-barang peninggalan almarhum dipecahkan. Kamera yang sudah dianggap istrinya dihancurkan dengan ujung kamera sudah tidak berlensa lagi. Kaca lensa hancur dan menjadi pecahan-pecahan kecil berserakan di lantai bercampur dengan kaca box.
Buku-buku kesayangannya disobek-sobek tidak beraturan. Sampul buku dengan judul Karl Mark terpisah dari halaman pertama, sampul buku Cheu Ghuevara menjadi dua potongan, halaman-halaman buku Kahlil Gibran berserakan di dalam box setelah disobek-sobek.
Air mataku tumpah melihat semua pemandangan memilukan itu. Betapa rendahnya nilai peninggalan orang yang kami cintai dimata mereka. Betapa murahannya sekretariat yang kami anggap suci dan menjadi surga kami.
Aku sedih mengingat semua. Mengingat putra kelahiran Pinrang angkatan 99 di Fakultas Teknologi Industri itu. Ullah yang menjadi korban penikaman atas perkelahian antara salah satu lembaga UKM dan fakultas di Kampus UMI di tahun 2000. Sebuah tikaman mendarat di perut sebelah kirinya ketika mendokumentasikan perkelahian itu dan berujung pada kepergian untuk selama-lamanya.
Entah siapa yang melakukan perbuatan biadab dan naif itu? Kami menjadi orang-orang rapuh, tertunduk lemas mendengar kabar kepergian sang fotografer Cakrawala IDE UPPM. Sakir yang menjadi orang linglung mencari pelaku penikaman, Selle yang menjadi sangat marah dan langsung meminta pihak Rektorat tegas, juga Iffank yang geram dengan aksi mahasiswa yang terlibat perkelahian. Dan aku? Aku yang menjadi seperti orang yang baru saja patah hati ditinggal kekasih. Mana mungkin aku melupakanmu Ullah. Baru sepuluh menit lalu, sebelum ajal menjemputnya, kita bertengkar hebat hanya karena sebuah kalung dengan mainan gigi ikan paus. Ullah yang mengaku jatuh cinta dengan kalungku dan mengemis agar diberikan padanya. Tapi aku menolaknya mentah-mentah. Tapi kemudian akupun mengalah setelah dia memelas padaku dengan alasan kalung itu hanya dipinjamnya.
Kalung yang merupakan pemberian temanku yang memiliki usaha di bidang perhiasan dari bahan dasar hewan bernama Cano. Dan selanjutnya, beberapa menit kemudian aku tersentak kaget mendengar dia telah meninggal. Air mataku tumpah dan membuatku terhempas tidak berdaya. Meninggal dengan sebuah kalung melingkar di lehernya. Kalung yang akhirnya kuniatkan tidak akan kuambil lagi dan ikhlas kuberikan padanya.
Terlalu banyak kenangan bersamanya. Dan aku masih mengingat dengan jelas seminggu sebelum ajal menjemputnya, di depan mataku, di pelataran Gedung DPRD Sulsel, 6 April 2000, dia menjadi korban pemukulan Kasat IPP Poltabes Makassar Andi Patawari kala itu saat aksi buruh. Selanjutnya, dia diseret dan mendekam di tahanan. Aksi buruh yang dilakukannya untuk memperjuangkan nasib petani.
Ullah yang bercita-cita menjadi orang merdeka, dan selalu berteriak lantang,” Aku ingin menjadi petani sosialis!! menjadi fotografer handal!! Dan menjadi demonstran sejati!!” Ullah kamu telah menjadi martil bagi kami.
Untukmu yang pernah berbekas di hatiku dan sama-sama perna teriak, LAWAN!!
Diposting oleh
APRIL MAKASSAR BERDARAH (AMARAH) 96
di
11:31 PM
0
komentar
Dari MUSDA KNPI SULSEL
18 Desember 2007
Hotel Singgasana Makassar. Tempat digelarnya Musyawarah Daerah KNPI Sulsel. Aku ke sana janjian bertemu dengan sejumlah senior-seniorku dulunya di HMI. Mereka dari sejumlah daerah di Sulsel dan kebetulan menjadi pengurus KNPI di daerah mereka masing-masing dan ke Makassar untuk mengikuti Musda KNPI. Janjian mengupas Amarah.
Ketika memasuki Hotel Singgasana, aku bertemu dengan Syamsul Rizal atau biasa kusapa Kak Ical yang kini tercatat sebagai Ketua ICMI Muda Sulsel dan anggota DPRD Makassar. Sebelumnya dia terlibat pembicaraan serius dengan Ketua KNPI Makassar hingga kemudian menengurku ketika melihatku.
“Inka.”
Aku tersenyum dan menjabat tangannya. Ilo yang merupakan pengurus ICMI Muda Maros dan pengurus KNPI yang ada di samping Ical lalu mengatakan, “Kak Ical, Inka ini Wakil Sekretaris ICMI Muda Maros.”
Ical menatapku dan berujar, “Inka kah juga diam-diam ji. Tidak pernah bilang apa-apa.”
Aku kembali menebar senyum.Setelah itu, aku pamit untuk beranjak. Di meja paling sudut, kulihat seniorku di HMI, A Buana A Sommeng, duduk di sebuah meja bundar. Disampingnya ada Ilham Syah Azikin yang merupakan salah satu kandidat ikut memeriahkan bursa perebutan kursi nomor satu di KNPI Sulsel. Aku menjabat tangan mereka.
“Hebat sekali fotota Bos! Majuki Cappo,” kataku pada Ilham. Lelaki yang menjabat sebagai Kabag Humas Pemkab Maros itu tertawa.
Cappo ini adalah sebuah istilah yang kental dipergunakan para tim Syahrul Yasin Limpo saat maju bertarung dalam Pilkada Gubernur Sulsel pada November 2007 lalu. Syahrul yang berpasangan dengan Agus Arifin Nu’mang atau biasa disingkat Sayang bertarung melawan Amin Syam yang berpasangan dengan mantan Rektorku dulu di UMI, Prof Dr Mansyur Ramli, dalam paket Asmara. Pasangan lainnya ikut bertarung adalah Asis Kahar Mudzakkar yang berpasangan dengan Mubly Hamdaling dan merupakan Ketua Kahmi Sulsel dengan paket Pejuang. Kahmi adalah kepanjangan dari Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam. Cappo ini jika diartikan hampir sama dengan hubungan kekerabatan atau persaudaraan. Dan Ilham adalah salah satu pendukung fanatik Syahrul.
“Bagaimanami bukumu?” tanya Ilham.
“Amanji. Janganmi dulu urus bukuku Bos! Gampangmi itu. Urus dan konsentrasi meki dulu supaya menangki di Musda malam ini,” ujarku.
“Mantap. Bantuka padeng cappo.”
Aku tertawa mendengar Ilham mengungkapkan kalimat itu dengan penuh semangat. Jiwa mudanya memang kuat sekali. Tidak lama, ponselnya berdering dan dia terlihat meninggalkan kursinya sambil mendekatkan ponselnya di telinga. Di Musda, Ilham bertarung melawan Risman dan seniorku di Fakultas Ekonomi UMI dan di HMI bernama Nasrullah.
Aku lalu berdiskusi dengan Buana mengenai Amarah. Dia menjelaskan banyak hal mengenai kasus tersebut. Tidak lama, Abd Razak alias Aca' yang menjabat Ketua Badko HMI Sulselra dan Tom yang merupakan anggota KPU Lutim yang dulunya sama-sama diriku tergabung dalam tim investigasi kasus penyerbuan aparat ke wisma HMI duduk bergabung di meja kami.
“Kak Buana, saya juga mau konfirmasi mengenai lemparan gelas yang pernah dilakukan Kak Rini. Benar tidak?”
Buana kaget. Tom dan Cacank juga kaget. “Beraninya itu Rini Kak Buana,” ujar Aca'. Aku memandang ke arah Buana.
“Serius, senior. Kak Rini mengatakan itu sama saya.”
“Kita harus konfirmasi langsung ke Rini sekarang,” tawar Aca'.
“Iya. Coba kontak Rini,” saranku juga. Tapi Aca' urung melakukannya karena Buana mulai bercerita.
“Jadi mengenai, lemparan gelas itu tidak benar. Nah kalau dia lempar saya dengan pot dan ada bunganya mungkin itu benar. Atau dia lempar saya pakai bunga dan ikut potnya, itu juga mungkin benar.”
Kami semua tertawa mendengar lelucon senior kami itu.
“Atau mungkin dia lempar karena cintanya ditolak,” kataku lagi.
Kami semua semakin tertawa terbahak-bahak.
“Jadi ketika dia lempar saya, datang Aca' tangkis dan akhirnya tidak kena,” kata Buana masih dengan nguyonan.
Kami masih terus tertawa terbahak-bahak.
Tapi aku tidak tahu siapa yang patut dipercaya mengenai lemparan gelas itu. Tapi intinya bukan itu yang ingin kuketahui. Tapi mengenai Amarah.
“Kak Buana dukung siapa di Musda KNPI ini?”
“Ilham.”
“Kalau dari posternya, sebenarnya auranya Ilham kuat sekali menjadi Ketua KNPI Sulsel,” kataku sambil menatap secara bergantian dua poster pasangan calon yang dipasang mengapit pintu masuk ke ruang tempat digelarnya Musda KNPI. Tom, Buana, dan Cacank ikut memperhatikan poster tersebut.
Di sebelah kiri ada foto Ilham mengenakan jaket berwarna biru tersenyum dengan mulut terkunci. Baju biru yang dikenakan itu merupakan baju kebesaran organisasi itu. Lalu di sebelah kanan ada foto Nasrullah juga mengenakan baju yang sama sambil mengepalkan tangan kanannya sedikit terangkat ke atas dengan untaian senyuman dan memperlihatkan deretan giginya.
Tom yang duduk di samping kiriku lalu berujar, “Kamu dukung siapa Inka?”
Aku diam sementara dengan pertanyaan itu. Lalu berujar, “Kak Nasrullah itu seniorku di Fakultas Ekonomi UMI dan di HMI. Nah, kalau Kak Ilham itu, adalah bosku di Maros. Jadi saya bingung pilih siapa. Tapi kalau dipikir-pikir, buat apa saya bingung karena saya tidak punya hak suara. Dan saya bersyukur tidak punya hak suara sehingga tidak perlu pusing memilih siapa-siapa,” ujarku.
Tom tertawa meledekku. “Pada dasarnya saya mendukung keduanya. Dan intinya, siapapun yang terpilih, itulah yang terbaik dan itu yang saya pilih.”
“Bahasa apologi,” Cacank ikut-ikutan meledekku. Aku lalu pamit untuk ke kamar salah satu peserta musda di lantai empat belas.
* * *
Beberapa jam kemudian, aku turun bergabung dengan para seniorku. Saatnya perhitungan suara dimulai. Aku duduk sambil memperhatikan raut wajah orang-orang di hadapanku. Mereka memancarkan wajah tegang. Kak Buana misalnya, tertunduk menatap lantai dan wajahnya sangat tegang. Sedangkan aku, sangat santai sekali.
Beberapa kali, nama Ilham disebut.
“Ilham.”
“Ilham.”
“Nasrullah.”
“Ilham”
“Ilham-Ilham-Ilham-Ilham Syah Azikin-Ilham-Ilham Syah.”
Dan suara tepuk tangan dari dalam forum menggema. Ilham akhirnya yang naik terpilih sebagai Ketua KNPI Sulsel dengan perolehan suara 49 suara, disusul Nasrullah 11 suara, dan Risman hanya empat suara.
Tidak lama, Nasrullah lewat di meja kami. Kami semua berdiri dan memberinya selamat meskipun dia kalah. Setelah itu, dia berlalu. Di ujung sana, kulihat Ilham tidak henti-hentinya menjabat tangan beberapa orang yang ditemuinya.
“Jadi apa bargainingnya KNPI Maros ini?” tanyaku pada ketua KNPI Maros Awal yang kemejaku bersama Boby dan beberapa orang lainnya.
“Itu yang saya pusing juga. Inka ayo makan Mi Titi,” ajak Awal dan aku langsung berdiri dari kursi menyambut dengan antusias ketika dia menyebutkan makanan itu.
“Ayomi padeng Kak Awal. Perutku langsung lapar dengar Mi Titi,” kataku.
“Oke Pak Sopir. Ambil mobil!!” Perintah Awal pada seorang lelaki yang berdiri tidak jauh dari tempatnya dan membuat kami tertawa. Soalnya, stylenya terlihat lucu mengeluarkan perintah itu.
Akhirnya, kami pun bersama sekitar sepuluh orang menuju ke rumah makan andalan kami. Makan Mi Titi. Dalam rombongan itu, semua berasal dari pengurus KNPI Maros kecuali aku.
Pulang makan Mi Titi, ketika memasuki hotel, aku berpapasan dengan seseorang yang sangat akrab di pintu masuk.
“Kayaknya saya kenal sama kamu?” katanya dengan kalimat awal ketika menyapaku. Aku tersenyum dan pura-pura bego.
“Iya. Kayaknya saya juga kenal. Tapi kira-kira kita pernah ketemu di mana, yah?”
Lelaki yang tercatat sebagai pengurus KNPI dan anggota KPU Bulukumba itu lalu mengepalkan tangannya dan mengarahkan tinju ke jidatku dengan sangat pelan.
“Kamu benar-benar.”
Aku tertawa pelan. Alo yang dulunya mantan Ketua HMI Cabang Makassar yang ada di samping Uni ikut tertawa.
“Kak Uni. Kapan dari Bulukumba?” tanyaku dengan mimik serius pada lelaki yang bernama lengkap Syahruni Haris itu.
“Kemarin, Dek. Jadi bukumu terbit tahun depan?”
“Insya Allah, Kak.”
“Ayo pergi makan?” ajaknya.
“Adu, Kak. Saya baru saja selesai makan.”
“Kak Uni, saya mau tanya mengenai pembawa materi ideopolistrata saat LK II HMI itu. Siapa sebenarnya yang bawa materi?”
“Kalau tidak salah ada namanya Alwi.”
“Bukannya Pak Rahmat?”
“Bukan. Kayaknya Alwi. Tapi saya juga lupa ingat.”
“Lalu Kak Buana? Katanya dia yang bawa materi itu. Barusan saya ketemu dengan Kak Buana dan dia bilang yang bawa dia. Trus Kak Ayyub dan Kak Hamka bilang bukan Kak Buana tapi Pak Rahmat. Trus kamu bilang Pak Alwi. Trus yang benar mana?”
Uni terdiam. Seperti berusaha berpikir.
“Saya heran sama kalian ini para saksi sejarah tidak conect komentarnya satu dengan yang lain,” kataku.
Dia menatapku dan tertawa. “Saya punya nama-nama yang membawa materi LK II itu. Saya menyimpannya di sebuah agenda. Nanti saya beritahu siapa yang bawa materi itu,” katanya. Aku mengangguk dan pamit dari hadapannya masuk ke dalam hotel dan menuju ke lantai empat belas. Menuju ke kamar salah satu panitia musda. Aku sudah sangat ngantuk. Sampai di kamar, semua makhluk tidur dengan posisi tidak beraturan dan tertumpuk-tumpuk di lantai. Rasanya, Aku tidak bisa tidur dengan cara seperti ini dan akhirnya aku memilih pulang.
Diposting oleh
APRIL MAKASSAR BERDARAH (AMARAH) 96
di
8:47 AM
1 komentar


