December 24, 2007

Catatan kecil bersama keponakanku (2)


BEBERAPA jam kemudian. Aku duduk di ruang tamu. Di luar, adik paling bungsuku, Rusdi, memperbaiki mobil kakak pertamaku, Udin, yang barusan ditabrak pete-pete dari belakang. Kulihat Putri ikut disampingnya memperhatikan Om kesayangannya itu sambil duduk berjongkok.
Sesekali Putri diperintah untuk mengambil alat-alat bengkel yang ada di dalam box dan dengan lincahnya, dia menemukan benda itu setelah mendapat gambaran model benda tersebut dari adikku.
“Put, ambilin lagi Om benda yang panjang, ujungnya bundar ada tulisan limanya.” Ketika perintah itu usai terdengar, Putri dengan lincahnya mengobrak abrik box dan selanjutnya, “Nih, Om.”
Adikku lalu tersenyum sambil memujinya, “Ade Puput pintar.” Yang dipuji tampak kegirangan.
Sementara itu, kulihat Rahmat tertidur dengan pulas di karpet yang ada di depan televisi sambil mendekap Linda. Mungkin dia kecapean menangis.
“Barusan Rahmat lucu sekali. Masa boneka dibilang anaknya. Trus dia bilang lagi, aku tidak bisa hidup tanpa anakku,” kataku sambil tertawa ketika melihat istri kakakku baru saja datang dengan kantong belanjaan bertulis Matahari.
Perempuan yang pernah menjadi anggota legislatif dari Golkar di Sanggata itu lalu berujar,”Iya. Itu nah kalau di rumah, sebelum Kaka pergi sekolah, pasti pamit sama bonekanya.”
“Masa, sih?”
“Iya, dia ngomong, kamu tidur, yah, Nak. Aku sekolah dulu. Pulang sekolah juga gitu. Dia tanya ma bonekanya, kamu udah makan, blom, Nak? Kalau belum, aku akan ambilin kamu makanan anakku sayang,” katanya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa mendengar perkataan iparku itu.
“Itu anak benar-benar,” kataku sambil geleng-geleng dan masih dengan tawa yang kubiarkan terhempas keluar. Aku tidak bisa menahannya. Dan seperti biasa, tiap aku tertawa perutku ikut sakit. Aku menuju menuju ke kamar masih dengan tawa lebar bahkan sangat lebar. Lucu sekali itu anak.

* * *

SEPERTI janjiku, malamnya, aku mengajak kedua keponakanku ke TimeZone yang ada di Panakukang bermain. Mereka asyik bermain bola basket. Seperti biasa, Putri lebih gesit memasukkan bola ke dalam keranjang daripada kakaknya.
Pukul 19.30 Wita. Sebuah sms masuk ke ponselku.

“Ka, anak-anak ngumpul di KopiZone. Ke sini.”

Pesan singkat dari Ida itu lalu kubalas. “Saya lagi di Diamond. Iya nanti.”
Letak Diamond dan KopiZone masih satu kompleks. Aku melihat kedua keponakannku berlomba memasukkan bola basket ke dalam keranjang. Sudah berantem kini akur lagi. Mereka memang seperti itu. Berantem kemudian Akur, Berantem lagi lalu akur lagi, dan begitu seterusnya. Seandainya para politisi-politisi kita seperti itu.
Aku sebenarnya ingin bergabung dengan kawan-kawanku. Tapi keponakanku? Kemudian aku kepikiran untuk menitip keponakanku di sebuah permainan rumah-rumahan. Aku lalu mengajak dua bocah itu bermain di lantai dasar Ramayana saja. Di situ ada permainan rumah-rumah tingkat empat yang dikelilingi sebuah besi. Didalamnya, ada balon-balon, luncuran, bola-bola, dan ayunan.
Permainan itu kubayar limapuluh ribu untuk mereka berdua. Tempat itu kuanggap aman untuk mereka bermain. Orangtuanya tiap kali belanja juga selalu melakukan hal sama. Meninggalkan anaknya bermain di mal dan mereka sibuk bebelanja keliling mal. Tapi aku masih ragu meninggalkannya. Kini aku duduk di sebuah kursi sambil memperhatikan keduanya saling dorong-dorongan di mainan luncuran. Hatiku masih saling tanya jawab. Pergi-tidak. Pergi-tidak. Aku belum membuat keputusan.
Rahmat dari jauh menatapku dan kemudian menuju ke arahku. “Tante kalau kamu mau pergi, pergi aja. Biar Kaka dan Ade Puput dititip di sini aja main sepuasnya,” ujar Rahmat yang membuatku kaget.
Kebetulan sekali. Rupanya bocah kecil yang sejak umur tiga tahun sudah mengenal komputer, sedikit pandai Bahasa Inggris, paling suka main game apalagi game catur ini, membaca pikiranku. Setelah mengungkapkan itu, dia lalu berlari masuk ke dalam bangunan rumah-rumahan.
Aku lalu berteriak memanggilnya diiringi dengan isyarat tangan, “Kaka. Sini dulu kamu.”
Dia tergopoh-gopoh kembali ke arahku. “Nggak apa-apa aku tinggalin kamu di sini main?”
Dia mengangguk.
Aku lalu berpesan padanya untuk tidak nakal dan menjaga adiknya.
“Jaga Ade Puput. Jangan nakal. Tante mau ke tempat teman. Nanti Tante balik jemput. Jam sepuluh tepat,” kataku sambil menyerahkan dua minuman Susu Indomilk botol dan disambut dengan anggukannya.
“Ingat, kalau ada yang ngajak pergi jangan ikut, yah,”pesanku lagi dan meninggalkan satu ponselku untuknya untuk dipakai jika ingin menghubungiku. Aku juga titip pesan sama penjaga mainan untuk menjaganya.
“Mbak tolong kodong dua anakku itu dijaga.”
Si penjaga mengangguk tapi sedikit kaget, “Oh itu anaknya, yah?”
Aku mengangguk. Penjaga itu mungkin tidak percaya dengan perkataanku barusan. Karena wajahku dan wajah keponakanku itu memang tidak mirip. Kedua wajah keponakanku lebih didominasi wajah ibunya ketimbang kakakku yang wajahnya sedikit mirip dengan diriku. Tapi aku tidak mau pusing. Dari jauh dua keponakanku bermain bersama dan tertawa-tawa riang. Mereka begitu menikmati indahnya masa kecil.


* * *

AKU lalu menuju ke KopiZone. Di sana, pengurus HMI dari Komisariat Ekonomi sudah berkumpul.
“Kak Iffank dalam perjalanan ke sini,” ujar Ida ketika aku duduk.
“Oh, yah!!” Kak Iffank adalah seniorku di Ekonomi dan pernah aktif ber HMI. Lelaki bernama lengkap Nirfan Arhat itu sekarang lebih banyak beraktifitas di Jakarta. Tidak lama orang yang kutunggu datang. Dia kaget melihatku dan aku juga kaget melihat perubahannya. Sedikit gemuk. Entah mengapa, kawan-kawan lama yang kutemui badanya semakin melebar. Mungkin mereka telah sukses menaklukkan dunia.
Aku berdiskusi dengan Iffank. Setelah Iffank pamit, aku membuka laptop dan melihat portal http;//www.tribun-timur.com.
“Inka, Kak Olleng,” Ida berujar.
Aku mengangkat kepala dan mencari nama yang barusan disebut Ida. Dan ketika kutangkap bayangnya aku memanggilnya. “Kak Olleng.” panggilku saat melihatnya melintas di hadapanku. Dia menghampiriku dan aku mengulurkan tangan menjabat tangannya.
“Kapanki datang dari Jakarta?” tanyaku pada lelaki yang bernama lengkap Syamsuddin Rajab dan kini menjadi Ketua Umum PBHI Pusat.
“Sudah beberapa hari, Dek. Rumahku yang di Manuruki baru saja terbakar. Bukuku semua habis terbakar,” ujar lelaki bertubuh subur itu dan membuatku kaget.
“Astaga!!!”
“Jadi buku yang saya janji juga ikut terbakar,” katanya dan kubalas dengan kata tidak apa-apa.
“Kak, saya mau Kak Olleng berkomentar di bukuku. Soalnya nilai jualnya sekarang Kak Olleng tinggi,” kataku sambil bergurau dan membuatnya tertawa.
“Ah! Kamu itu!!”
“Seriuska, Kak.”
“Oke kalau gitu. Nanti kukirim melalui e-mailmu,” katanya dan memperlihatkan telapak tanggannya di udara dan berujar lagi, “Ces dulu padeng.”
“Oke,” sambungku sambil meng-tos telapak tangannya. Dia kini berlalu. Pukul sepuluh, aku lalu pamit sama teman-teman dan menjemput dua bocah yang tadi kutitip di lantai dasar Ramayana bermain. Aku penasaran sama mereka berdua. Apakah berantem lagi?

Catatan kecil bersama keponakanku (1)








Suara ribut-ribut di luar kamar membuatku buyar dari konsentrasi menggarap buku Amarah Jilid Dua. Aku keluar kamar dan kulihat dua bocah saling umpat mengumpat. Aku berusaha melerai dua keponakanku yang sedang bertikai. Dua bocah yang bertikai itu namanya Putri Ansari Ridwan Sikati (6) dan Rahmat Ridwan Sikati (7). Putri biasa dipanggil Ade Puput dan Rahmat dipanggil Kaka. Kedua bocah itu adalah kakak beradik dan merupakan anak kakak ketigaku, Ridwan atau dipanggil Iwan, yang tinggal dan menetap di Kalimantan. Keduanya datang ke Makassar dibawa orangtuanya untuk liburan di Makassar. Ayahnya mengambil cuti selama sebulan dari tempatnya bekerja di perusahaan tambang Sanggata, Kalimantan Timur, bernama Kaltim Prima Coal (KPC).
“Ada apa Kaka menangis, Put? tanyaku dengan bahasa sedikit logat pada Putri yang berdiri menatap kakaknya yang menangis. Bahasa logat yang sering kugunakan setiap ngobrol dengan dua bocah centil itu.
Aku lalu menenangkan si sulung yang kini tengah menangis dengan posisi badan sandar di tembok sambil duduk.
“Ka diam, Ka. Kok nangis terus, sih…..”
“A-de Pu-put ja-hat,” ujarnya dengan terbata-bata.
“Iya kenapa?”
“Jahat. Ade Puput Jahat-Ade Puput Jahat.” Rahmat mengeluarkan kalimat itu berulang-ulang diiringi isak tangis dan nafas ngos-ngosan sambil dua kakinya digosok silih berganti di lantai.
“Aku nggak bisa hidup tanpa anakku, Tante.” Tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulutnya. Dan tentunya membuatku tercengang, tersentak, dan juga cukup kaget. Khususnya pada kalimat, aku tidak bisa hidup tanpa anakku. Apa maksudnya dia mengungkapkan itu?
“Aku tidak bisa hidup tanpa anakku. Anakkuuu, Tante….” Kalimat itu dia ulangi lagi dan aku benar-benar penasaran dan mencoba mencari tahu apa maksud perkataannya barusan.
Aku menatap Putri tajam. “Ka-ka mau ngambil i-ni-ni. Puput nggak mau, Tante,” ujar Putri dengan polos disertai gerakan kepala silih berganti ke kanan dan kekiri sambil menunjuk sebuah benda yang ada di tangannya dengan bantuan matanya.
Aku memperhatikan benda yang kini dipeluk Putri dengan erat. Aku kemudian mengerti yang dimaksud anaknya mungkin benda itu. Ketika menyadari yang dimaksud keponakanku itu anaknya adalah benda itu, aku langsung tertawa lepas dan kini menjadi tawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak, boneka dibilangin anaknya.
Dan tawaku membuat si sulung semakin menangis sejadi-jadinya. Mungkin dia merasa tawaku meledeknya. Aku merasa berdosa membuatnya semakin sedih dan mencoba membujuknya untuk diam.
“Ka diam Ka. Nanti Tante beliiin kamu boneka lagi, yah,” rayuku masih dengan berusaha menekan tawa.
“Nggak mauuuuuu. Aku mauuu anakkuuuuu yang di Ade Puput. Aku mau Lindaku. Aku nggak bisa hidup tanpa anakku. Oh Lindaku,” katanya kemudian dengan tangis sejadi-jadinya semakin keras. Dan aku menahan tawa sambil menutup mulut dengan tanganku. Perutmu mulai merintih karena kesakitan menahan tawa.
Tiga boneka yang ada di tangan Putri itu salah satunya diberi nama Linda. Lainnya ada bernama Lami dan Patrick. Cuman aku tidak tahu mana Lami dan mana Patrick. Tapi Linda adalah boneka dengan bentuk seperti kucing, berkumis, dan punya ekor memanjang. Dari cerita kakakku, boneka itu sebenarnya dipajang di belakang mobilnya sebagai aksesoris, tapi Rahmat mencabutnya. Kakakku sendiri dan istrinya sempat bingung kenapa anaknya memberi nama Linda pada boneka itu. Karena nama boneka itu tidak nyambung dengan bentuknya. Tapi dari Putri terungkap jika kakaknya naksir sama anak baru di sekolahnya bernama Linda. Anak salah seorang pejabat di Sanggata. Macam-macam saja.
Putri juga ikut-ikut mengejek kakaknya dengan intonasi berirama, “Jangan ambil anakku-jangan ambil anakku. Sungguh terlalu!! Ini punyaku, Kakak!!” Matanya melotot sinis memandang kakaknya. Rahmat semakin meraung-raung di lantai. Air matanya terus merembes keluar. Kuusap air matanya pakai ibu jariku. Lalu mendekapnya ke dalam pelukanku untuk menenangkannya dan aku masih sekuat tenaga mencoba menetralisir agar segera menghentikan tawaku.
Putri terus mengejek dan aku lalu memandang garang ke Putri agar berhenti mengejek. Putri kini diam tapi kemudian berusaha membela diri. “Kakakan udah punya tiga. Trus mau diambil satu lagi. Nah, kalau diambil satu, Kaka punya empat, dong. Trus Ade Puput cuman dua. Nggak mau, Tante.”
Kulepas Rahmat dari dekapanku dan dia masih menangis terus. Masih dengan air mata yang tumpah. Aku pusing bagaimana menenangkan makhluk cilik ini. Mana orangtuanya tidak ada lagi. Entah keluyuran kemana menggunakan kendaraanku.
“Put, kamu pinjamin aja Kaka. Atau kamu main mobil-mobilan aja.”
“Nggak ah. Aku sekarang lagi pengen main boneka, Tante. Ya Lami, Ya Patrick, Ya Linda. Kita main, yah,” ujarnya sambil mengajak ketiga boneka itu bicara. Dalam hati aku juga tertawa melihat tingkah Putri yang lucu karena mengajak tiga boneka di genggamannya bicara.
Aku terus membujuk si bungsu untuk menyerahkan satu boneka. Tiba-tiba TimeZone melintas di kepalaku. Ya.Ya. Sebuah resep yang menurutku paling jitu untuk membuatnya mengalah karena TimeZone adalah tempat paling dia sukai.
“Put, kasi Kaka satu, ya sayang. Nanti Tante beliin kamu. Trus kita main ke TimeZone,”rayuku.
Putri seperti terhipnotis dan mulai berangsur mengalah mendengar aku menyebut Timezone. Dan kini melompat-lompat girang. Lalu berujar, “Benar, yah. Awas lo kalau Tante boong lagi. Katanya mau ajak, tapi ternyata kamu nggak ajak. Alasannya kamu sibuk.”
Aku mengangguk sambil mengajungkan jari telunjuk dan tengah sehingga membentuk huruf V. “Iya. Janji.”
“Awas kalau nggak. Aku mainin laptopnya sampai rusak!!”
“Iya. Sayang.”
Dia lalu memberikan tiga boneka itu sekaligus pada kakaknya. “Nih, Kak. ambil aja. Aku diajak Tante main di Timezone.”
Rahmat kini diam. Sementara Putri menuju ke lantai bawah. Sambil berteriak-teriak, “Om Rusdi-Om Rusdi-Om Rusdikuuuuu. Kamu dimanaaaa? Aku diajak Tante ke TimeZone.” Aku geleng kepala melihat tingkah bocah centil dengan rambut dikepang dua itu.


* * *

AKU masuk kamar. Sejak kecil, keponakanku yang sulung ini memang tidak pernah lepas dari yang namanya boneka. Setiap tidur, harus ada boneka di pelukkannya. Kalau tidak ada boneka, dia tidak akan bisa tidur. Awalnya, orangtuanya yang menerapkan itu. Memberi Rahmat sebuah boneka di genggamannya sejak dia masih bayi.
Aku jadi teringat May, mungkin Tanteku dan ibuku juga menerapkan hal yang sama pada anak-anaknya dulu. Itu sebabnya, May tidak akan bisa tidur tanpa salib dan aku sangat susah lepas dari namanya tasbih berupa gelang di tangan dan Al Qur’an. Itu karena orangtua kami sejak kecil mendekatkan benda-benda itu hingga membuat kami menjadi sangat tergantung.
Kembali pikiranku melayang ke keponakanku. Jika Rahmat disuruh memilih boneka atau mobil-mobilan, dia akan memilih boneka. Sejak kecil, kakakku sengaja memperkenalkan mainan lembut-lembut pada anak lelakinya seperti boneka dan pada anaknya yang perempuan diperkenalkan mainan seperti mobil-mobilan dan pesawat-pesawat.
Dia sengaja melakukan hal ini untuk membuktikan jika gender itu bukan kodrat dan bisa dibentuk. Alhasil anaknya jadi sampel kelinci percobaan.
Sehingga apa yang terjadi, ketika anaknya sudah besar, yang laki-laki menjadi tergantung pada boneka daripada mainan mobil-mobilan, tapi memiliki perasaan peka, halus, perhatian pada kawan-kawannya dan yang perempuan sedikit tomboy, tidak cengeng, dan menjadikan mainan mobil-mobilan sebagai mainan kebesarannya, meski masih sering juga main boneka.
Hingga kemudian kakakku pernah mengatakan, “Sebenarnya dari dulu aku memang percaya jika manusia tidak terlahir menjadi laki-laki atau perempuan tetapi dijadikan laki-laki atau perempuan. Menjadi laki-laki atau menjadi perempuan itu merupakan proses pembelajaran atau sosialisasi. Aku telah membuktikan pada anak-anakku.”
Ya. Menjadi perempuan atau laki-laki bukanlah kodrat, bukan pembawaan sejak lahir. Bukan pula wahyu Ilahiah. Melainkan terbentuk secara diskursif. Yaitu terbentuk dalam dan melalui praktek tanda bahasa…

December 05, 2007

वक्तु इतु...

Pagi berselimut kabut, disertai gerimis, mengiringi langkahku ke sudut Kota Butta Salewangan. Menemuimu membahas Amarah. Ketika kursi berjejer dan meja menjadi saksi bisu. Ada suguhan teh panas yang cepat mendingin oleh hawa, sedingin hatiku ketika menatap parasmu wahai adam.

November 26, 2007

koran bicara


September 17, 2007

With KEPONAKANKU SAYANG